PUT THE GARBAGE IN THE RIGHT PLACE

saya tidak menyalahkan bagi siapapun yang mau bilang ini sampah, karena beginilah adanya. yang terpenting saya buang sampah pada tempatnya :)

Dengerin lagu emang jadi obat suntuk paling manteb.
Eh, tergantung lagunya juga sih.
Pernah lagi stres disuruh dengerin lagu Burn apa gitu, rasanya malah jadi pengen mbakar jagung =.=

Tapi emang lagu yang paling enak buat manjain kepala ini adalah lagunya Dua judulnya Kau.
Terlepas dari apa itu liriknya (karena sebenernya ga peduli sama liriknya), nada dan harmoninya bener-bener nyaman di telinga. Bisa dinikmati. Bisa di-NYANYIKAN.
Bisa dibilang lagu genre ini adalah galau.
Berhubung tanpa diduga temen-temenku suka stalker tulisanku dan tanpa tedeng aling-aling membuat persepsi sesuka hati serta membuat gosip baru palsu (ggrrrrr), maka saya tekankan bahwa lagu ini emang enak didengar. Ga ada makna apa-apa di balik lagu ini buat saya.
Silahkan dicoba yang belum pernah denger. Sekalian kalo ada yang merasa senasib dengan lagu ini atau mau bernostalgia :)

Karaokean juga jadi satu alternatif ngilangin suntuk yang mujarab.
Paling seneng ini kalo dah disuruh kumpul kelompok sispro gara-gara pasti adaaaaaaa ajaa aktivitas karaokean hahaha :D
Dan eh, ternyata suaranya temen-temenku tu bagus bagus lho walaupun belum terekspos :)

Intinya, semester 5 ini, yah walaupun tugasnya kadang-kadang bikin jerawatan, tapi stresnya dapet, senengnya juga dapet. Berasa diospek lagi.

So, semangat ! ^_^
Sekian intermezzo dari saya malam ini. Waktunya mencari Landasan Teori ! :D
[ Read More ]

"Bagaimana rasanya mati"

"Tidak ada yang tahu"

"Apa yang terjadi jika kita mati?"

"Mungkin Tuhan akan membangkitkan kita kembali"

"Berarti, mati itu tidak terlalu buruk?"

"Buruk bagi yang ditinggalkan"


Pernah nasehatin orang kayak gini, ternyata udah jadi dialog film juga :)
[ Read More ]

I know, Just do it fun.
Just believe.
Sometimes blue, sometimes orange.
Sometimes smile, sometimes tears.
All things seems like a wheel.


Thanks, and big thanks for my friend.
May be if you read it, you know that this is your word.


"Now, i'm trying to understand the philosophy of wheel.
Is it real that life rotate just like a wheel? Sometimes up, sometimes down?
Whereas, it's all just about the position, right?

Well, wheel is just like "O" which include of axis circuit trellis that able to spin on its. Then if i choose at the outer end of the tyre of the wheel, then someday i will be at the top and bottom of the wheel position. It will occur as long as the wheel keep spinning.

Pasive, follow the spin. Unable to change the destiny.

Doesn't life exist to let you make some changes?

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11)

So, it's ok for me to choose not to be at the outer end of the tyre but at the axis of the wheel of life so i won't be trapped at either, up and down side, right?



Being at the centre of wheel means i have to be able to manage my wheel of life.. Being leader for myself so the wheel won't ever stop and keep spirit though i have to walk on the rocky road.


Then, where is your position now, Dhy?
I hope you can walk to your axis of your life wheel"




-words by Ricky-

PS : I will give you no compliment,
because i know you bored


Comment - may be we should be the rider
:)
[ Read More ]

Kenapa orang stres lebih memilih lagu metal.
-Mungkin, karena ia merasa memiliki persamaan dengannya

Kenapa orang yang sedang jatuh cinta lebih memilih lagu cinta.
-Mungkin, ia membayangkan dirinyalah yang sedang menyatakan cinta

Kenapa orang yang lagi sedih lebih memilih lagu melow.
-Mungkin, ia menganggap lagu tersebut yang paling mengerti dia, atau
-dengan lagunya, ia tidak merasa sendiri dalam sendunya

Kenapa orang yang lagi bahagia lebih milih lagu ceria.
-Mungkin, karena ia tidak ingin bahagia sendiri


[ Read More ]

Sudah ada yang mencoba menjawab pertanyaan di postingan '8 Menit'
Ada yang memilih untuk cari jodoh *colek Yahya :p
Tapi ada juga yang inspiratif,
Applause dong buat Ricky Firnadhi, hahahaha :D
Cool. Dan tantangannya yang bermula dari tulisanku harus berbalik lagi padaku :'(

Inilah jawaban dari andai-andai 8 Menit versi saya :

Aku akan segera menuju atap gedung tertinggi di kota ini dalam waktu 2 menit.

Kemudian 30 detik berikutnya akan kubiarkan diriku dihempas angin semilir dari ketinggian itu. Kubiarkan mataku menikmati kemegahan geografi tanpa berkedip. Kubiarkan diriku merasa sangat kecil di antara gedung-gedung, rumah-rumah, serta luasnya daratan dan langit yang bertemu pada satu titik yaitu cakrawala. Kubiarkan diriku merasa sendiri tapi bukan kesepian melainkan kedamaian.

Selanjutnya, akan kuhabiskan 4 menit 30 detik berikutnya untuk menulis surat singkat dalam buku diaryku. Surat singkat itu aku tujukan untuk keluarga, kerabat-kerabat terdekat, teman dan sahabat, serta semua orang yang paling berpengaruh dalam lingkar kehidupanku. Isinya merupakan pernyataan maaf, rindu, cinta, kenangan, dan terimakasih. Suatu perkataan yang tak pernah terucap.

Terakhir, kubiarkan diriku rebah menatap langit sembari berdzikir, pada 1 menit terakhir. Dan berharap, jika 1 menit terakhir itu adalah siang hari, maka langit yang disajikan merupakan langit paling biru dan cerah. Tidak panas namun sejuk. Dan jika 1 menit itu adalah malam hari, aku berharap itu adalah langit dengan taburan bintang paling meriah. Tidak lupa aku mengirim SMS kepada salah satu keluarga dan salah satu sahabat, untuk menjemputku di atap gedung X. Sehingga mereka dapat menemukan diaryku beserta surat singkatnya dan jasadku.

---------------------------------------------------------------------------------

Hidup yang terbatas dengan segudang mimpi yang tak pernah habis.
Ingin rasanya dalam 8 menit saya sudah katam keliling dunia.
Atau berharap dalam 8 menit saya sudah jadi profesor.
Atau paling tidak dalam 8 menit saya sudah punya rumah dengan kolam renang hasil jerih payah sendiri.

Tapi saya berangan-angan dengan 8 menit yang lain.
Dan saya memilih menghabiskan 8 menit ini untuk mengenang dan berterimakasih kepada orang-orang hebat di sekitar saya.
Orang-orang yang membuat geometri hidup saya menjadi beragam.
Orang-orang yang membuat saya belajar mengenai segala macam rasa hidup.
Orang-orang yang membuat 1 jam seolah hanya 1 menit buatku.
Orang-orang yang membuat saya untuk tidak loncat dari gedung ataupun menenggak racun tikus.
Orang-orang yang membuat saya berdoa agar mendapatkan 8 menit yang lain. Lagi, lagi, dan lagi.


Begitulah, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada orang-orang yang membuat saya masih berani bermimpi dan menatap pagi yang setiap hari menjemput :)
Mungkin, hanya 8 menit.

-dan saya mohon maaf kalo kalo postingan ini terdengar absurd. beginilah saya beserta tulisannya. semoga bermanfaat :)
[ Read More ]


Tanyalah arti Satu Tahun pada siswa yang tidak naik kelas
Tanyalah arti Satu Bulan pada ibu yang melahirkan bayi premature
Tanyalah arti Satu Minggu pada editor surat kabar mingguan
Tanyalah arti Satu Hari pada buruh harian yang memiliki istri dan 6 orang anak yang menunggu diberi makan
Tanyalah arti Satu Jam pada pelajar yang sedang mengerjakan ujian
Tanyalah arti Satu Menit pada seseorang yang ketinggalan kereta
Tanyalah arti Satu Detik  pada seseorang yang selamat dari kecelakaan
Tanyalah arti Satu Milidetik pada seseorang yang memenangkan medali olimpiade

- petuah dari bapak pembimbing pimnas :)

Menurut saya, Waktu adalah misteri setelah Hidup, Cinta, Kematian, Segitiga Bermuda, dan Tata Surya.

Satu detik yang lalu, yaitu ketika saya menulis kata sebelum kata ini, merupakan masa lalu saya.
Dan jujur, apabila satuan detik adalah satuan Rupiah, maka berapakah harga satu detik milik saya yang lalu?
Bagi saya, satu detik yang lalu tidak cukup berarti karena beberapa menit akan lebih berarti untuk menamatkan tulisan ini. Tapi ternyata beberapa menit tersebut membutuhkan satu detik yang lalu tersebut. Jadi sesungguhnya berapakah nilai satu detik saya yang lalu?
By the way, saya mulai pening mikirin satu detik yang lalu. Satu detik yang berusaha saya tangkap dan hentikan tapi tetap saja, dia memilih untuk berlalu. Saya bisa aja bawa pulang 20 film, motret 20 foto, merekam 20 wawancara, tapi saya belum punya ide bagaimana membungkus 20 detik. Kebetulan 20 detik itu sangat berarti bagi saya, yaitu ketika saya berpapasan dengan seseorang, bertegur sapa dan sedikit berbasa basi. Kemudian kami saling tersenyum daaaan.....berlalu. Dan bagi saya, membungkus 20 detik tersebut ternyata bisa menjadi amunisi semangat untuk hidup satu minggu ke depan. Namun, begitulah Waktu. Tidak membiarkan dirinya dibungkus, tapi selalu menawarkan kejutan yang lain.

Ngomongin Waktu, bagi saya quote ini cukup inspiratif :

“Hiduplah seolah-olah kamu akan mati esok, Belajarlah seolah-olah kamu hidup selamanya”.

Jika saya tau akan mati esok, maka saya masih punya 24 jam atau 1440 menit atau 86400 detik untuk beberapa hal :
- bayar utang
- naik sepeda muterin UGM (aja)
- bercengkerama dengan para sahabat
- bercengkerama dengan keluarga
- memeluk mereka, keluarga, sahabat
- meminta samudra maaf
- tertawa dan tersenyum
- dsb

Tapi, saya masih belum punya ide, tentang bagaimana jika saya baru tau ternyata hanya tersisa 8 menit paling berharga untuk hidup?
- efek nonton Source Code
.
.
.
.
.
.
.
.

[ Read More ]

Sering kalik ya, ngerasain momen momen yang bisa dibilang 'stuck!'
'lack of motivation'
'nggerus to the max'
Mau jawab jujur? Yap, saya begitu.
Kadang bingung ngobatinnya pake apa.
Yang jelas saya gabisa dateng ke dokter dan complain dengan seenaknya minta obat penggugah semangat.
Saya tau yang bisa menyembuhkan adalah diri saya sendiri dan berdoa :)
Dan di tengah 'kelelahan' ini, saya sempatkan membuka album lama lapuk.
Walhasil, saya senyum-senyum sendiri.
Ada perasaan lain yang bergelayut di sanubari.
"Ini lho, waktu aku kecil. Gapunya masalah, iyalah, kayaknya gapernah pake otak juga. Taunya semua beres, ah, menyenangkan sekali."
Ngeliat jaman dulu kita masih bareng-bareng. Si kakak yang sayang banget sama aku (sebelum akhirnya lahirlah si adik kampret).
Jadi inget dulu pengen ngemusnahin si adek tapi gajadi :ketawasetan:
Hehehe, di sinilah. Momen aku punya alasan untuk terus maju.
Dengan melihat ke belakang,
dan tentunya mencoba menembus masa depan yang misterius.
Nggak tau kenapa.
Cuma dengan gambar gambar ini,
kekuatan itu datang lagi.
Semuanya udah berjuang, walaupun mereka mungkin nggak sadar.
Karena mereka lah aku di sini sekarang.
Menghadap monitor dan berusaha menahan air mata,
dan sesekali tersenyum.
Aku pernah berdoa : 'Terimakasih, ya Allah atas keluarga yang Kau berikan kepada hamba. Hamba tak tau apa jadinya tanpa mereka atau salah satunya. Sekali lagi terimakasih'
Sampai akhirnya Kau mengambil salah satunya..
Dan hamba ternyata masih mampu menatap dunia ini.
Mungkin karena mukjizat yang Kau berikan bukan hanya terletak pada keluarga,
tapi karena anugerah-Mu yang kami sebut dengan 'teman'
atau
'sahabat'
Dan sekarang izinkan saya mengucap syukur lagi...
'Terimakasih, ya Allah. Karena Kau menghindarkan hamba dari tindakan-tindakan bodoh. Atas kebaikan-Mu mengirimkan malaikat yang kusebut teman. Hamba tidak tau apakah ia atau mereka akan tetap di samping saya. Tapi, hamba ucapkan syukur karena Kau izinkan hamba merasakan kehadiran mereka, dan tersenyum. Karena mereka lah, hamba bertahan'
Thanks to you :)

Yap, izinkan saya sedikit agak lumayan pamer foto masa kecil saya yah..
Maaf ya, kalo dulu saya imut-imut nggemesin minta dicubit.
Ya gimana lagi, resiko jadi anak-anak :D
Urut dari kiri : Abang, Mama, Adek kampret, Papa, Saia

Sayang Abaaaanggg >.<

Pas belom ada si adek kampret :YES:

Pas udah ada adek kampret. Tu kan berisik =.=

Aih aih, ini si abang yang sayang abis ama kami berdua :3

Formasi Bahagia

Sama emak dan abang di Madame Tussauds, Latar Beatles.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
..
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Dan ini saya yang ternyata waktu balita ganjen abbbeeeessssssss xD

Yap, nostalgia
Kadang pahit kadang manis...
Daripada mikir yang engga engga,
mending diinget manisnya aja. Ya, tidak?
Yang pahit?
Itu adalah mozaik yang melengkapi hidupmu menjadi sempurna.
Manis yang sedikit akan terasa manis karena pernah merasakan pahit bukan?
Tapi bukankah pahit itu terjadi karena ketiadaan gula?

Yap, gula kuncinya.
Sekian
[ Read More ]

Belakangan jadi inget terus ama quote dari sebuah novel yang baru-baru ini kubaca.

Seorang kakek yang memberi petuah kepada cucunya...
"Kamu tau nak, kapan kamu menjadi orang yang paling berarti? Ketika seseorang sangat mengharapkanmu." - dikutip dari novel Mengikuti Perjalanan Opa Mora

Tapi aku punya petuah sendiri nanggepin nasehat si kakek.
"Kamu tau nak, siapakah orang yang paling menyedihkan? Dia adalah orang yang tidak mampu mewujudkan harapan dari seseorang yang mengharapkannya." - dhyanadhy, 2011
[ Read More ]