PUT THE GARBAGE IN THE RIGHT PLACE

saya tidak menyalahkan bagi siapapun yang mau bilang ini sampah, karena beginilah adanya. yang terpenting saya buang sampah pada tempatnya :)
Showing posts with label dudu ed.. Show all posts
Showing posts with label dudu ed.. Show all posts

Dudu and Bob were talking in the garden. Once, Bob asked some questions to Dudu.

Bob: Dud, how do you enjoy your life?
Dudu: Nothing, just let everything that comes to be something good
Bob: How do you get up every morning?
Dudu: I get up in the morning with pray and smile by my lips
Bob: How many times did you falling in love?
Dudu: Many times, Everyday. I love my family, friends, neighbour, teacher, and everything around me
Bob: What is the thing that make you smile?
Dudu: It's you


[ Read More ]

Dudu sedang duduk.
Bukan, bukan di kelas kampus. Bukan, bukan juga di dalam angkot. Bukan, bukan pula di bioskop.
Rumah sakit, ya, lobi rumah sakit tepatnya.
Ia hendak menjenguk sanak saudaranya yang sedang rawat inap di sana. Dan apa yang dia lakukan di tempat duduk itu adalah menunggu. Menunggu sanak saudara yang lain untuk bergabung dalam perhelatan jenguk tersebut.
Dudu tidak sendiri. Ia memilih tempat duduk baris nomor 3, bersebelahan dengan seorang ibu.
Percakapan pun terjadi.

"Ibu hendak menjenguk siapa?", mulai Dudu
"Saya sakit, nak", jawab ibu tersebut
"Oh, sakit apa, bu?"
"Ibu juga belum tahu."
"Lalu apa yang ibu tunggu?"
"Entahlah. Mungkin kematian."
Ngek. Dudu menelan ludah saja.
"Saya akan hendak menjenguk saudara di sini. Ibu bisa panggil saya kalau butuh bantuan. Oke?" Dudu mengalihkan pembicaraan
"Ah, iya, nak. Terimakasih", Ibu tersebut tersenyum
Fiuh lega. Sepertinya ibu tadi hanya melantur.
"Ibu bekerja apa?", Dudu kembali membuka topik
"Oh, Ibu dulu pernah bekerja sebagai loper koran. Kemudian, Ibu menjadi guru di salah satu SD kecamatan. Selanjutnya, Ibu beruntung, Ibu duduk di salah satu jabatan kementrian negara.  Begitu masa jabatan Ibu selesai, Ibu mendirikan panti jompo. Sambil berbisnis, hitung-hitung untuk menyokong biaya panti jompo. Selanjutnya Ibu aktif dalam kegiatan sosial, nak."
"Lalu, sekarang?"
"Sekarang? Yah, Ibu hanya bisa berharap."
"Berharap apa, Bu?"
"Berharap orang lain menangis ketika saya telah tiada.", tandas sang ibu
[ Read More ]

"Dudu!", eh ada yang manggil aku, pikir Dudu
Sejurus dia tengok ke belakang. Eh, ada Mbak Sekar, terlihat berlari menuju Dudu sambil melambaikan tangan (dan juga tersenyum, imagine that).  Mbak Sekar terlihat lebih cantik daripada biasanya (blush).  Apa mungkin karena masih nuansa lebaran?

Dudu dengan instingnya : she (mbak sekar) is reborn, success with her fasting month. Subhanallah

Oke, balik ke cerita. Ternyata mereka janjian untuk silaturahmi bareng menuju kediaman Bang Somat.  Bang Somat itu adalah pedagang siomay di depan sekolah mereka. Beliau kurang lebih berkepala 3, tetap dengan 1 istrinya dan sudah memiliki 2 anak.  Anak pertama dan kedua tidak terpaut jauh usianya.  Dua tahun dan lima tahun, keduanya cewek.
"Tok, tok, tok, Assalamualaikum", sapa Dudu dan mbak Sekar
"Waalaikumsalam" jawab penghuni gubuk sederhana.
Bang Somat dengan balita 2 tahunnya tampak dari balik pintu. Sumringah menyambut kedatangan mereka.
"Eh, ada Dudu dan Mbak Sekar. Monggo, monggo, lenggah sik", sambut Bang Somat
Sejurus kemudian, keluarlah balita 5 tahunnya. Berlari, gembira, bersorak, layaknya anak kecil bahagia pada umumnya.  Kami mengobrol banyak dengan Bang Somat, Bu Somat, dan kedua balitanya.
Dalam perbincangan yang mengasikkan, ada pemandangan yang membuat Dudu terheran. Mbak Sekar.
Sepulang dari kediaman Bang Somat, Dudu bertanya pada Mbak Sekar.

Dudu dalam pikirannya : Mbak Sekar itu orangnya tertutup, pendiam, sedikit kaku kikuk. Bukan tipe supel, well you can imagine that. Tapi dengan kedua balita tadi, ada sisi lain dari mbak Sekar yang aku baru liat. Kebahagiaan. Pancaran yang berbeda.

"Mbak Sekar, suka anak kecil ya?", Dudu tanya
"Hm, he em", jawabnya
"Cie, udah kebelet pengen punya ya? Hayoo, prikitiew", goda Dudu
"Hush! Kamu tu ya, bapaknya aja belom ada.", jawabnya sambil tersipu, blush
"Tapi Mbak Sekar keliatan sayang banget", rese amat si Dudu
"Aku suka mereka karena mereka jadi diri mereka sendiri. Semua original. Dan aku pun nyaman."
"..............."
"Aku suka mata mereka, kepolosan mereka, tawa mereka, mimpi mereka, hmmph. Tanpa ambisi.", lanjut Mbak Sekar
"Hal yang jarang kita temui di sekolah kita ya, mbak. Hal yang jarang kita temui pada teman-teman kita, para artis, sampai tokoh pemerintahan ya, mbak. Haa, i got it.", Dudu kini paham mengapa Mbak Sekar berkepribadian seperti itu.
"Yah, mungkin aku terdengar egois. Karena terkadang aku ngerasa ga rela. Ga rela mereka nantinya beranjak dewasa.", tamat Mbak Sekar
[ Read More ]

dudu, sebuah karakter kecil dalam blog ini.
jenis kelamin, usia, pekerjaan, dan status masih belum diketahui.

"gimana ceritanya nih -.-"
 
bayangkan saja dia adalah refleksi dari diri kamu.
aku pikir hal ini lebih fair :)
[ Read More ]